Berbahasa itu bukan saja berkata, tetapi juga mendengarkan. Jadi kemampuan berbahasa bukan hanya kemampuan berbicara dalam bahasa tersebut, tetapi juga kemampuan dalam memahami percakapan dalam bahasa tersebut. Gagap bahasa di di sini bukan gagap dalam arti berbicara tidak lancar, tetapi menjadi gagap memahami bahasa Indonesia, karena adanya trend-trend baru dalam bahasa Indonesia.
Bagi orang yang lama tinggal di LN, seringkali kita tanpa tersadar menjadi gagap dalam memahami bahasa Indonesia itu. Misal sekarang kita sering jadi "kaget-kaget" ketika mendengar orang Indonesia menggunakan kata "secara", "hare gene" dan lain sebagainya di luar dari cara penggunaan yang dulu kita pahami. Walaupun itu memang sekedar trend atau bahasa gaul, tapi sempat menjadi bingung. Dan tanpa sadar kita yang di LN ini sering berkata, wah bahasa Indonesia anak sekarang rusak ndak karuan.
Kegamangan memahami bahasa sekarang ini sering mencuatkan komentar macam-macam. Orang Indonesia tahun 60-an yang lalu tinggal di LN, sering mempermasalahkan bahasa Indonesia saat ini sebagai bahasa yang jadi buruk. Mereka kaget ketika mendengar angkatan saya (angkatan 80-an booo, jadul lah pokoknya) bicara ala prokem "pokay loe, ogut suping nih mo kemek dulu". Dan sering dikatakan ORBA yang merusak bahasa Indonesia sehingga munculnya gaya prokem (emang ada hubungannya ?)
Begitu juga angkatan saya mungkin sering mengatakan ABG jaman sekarang ini bahasa Indonesia-nya ndak mutu, campur-campur dengan bahasa Inggris. Dan sering dihubung-hubungkan karena kebanyakan baca chick-lit dan dengar MTV. Padahal kuncinya cuma satu, mereka (mungkin termasuk saya) merasa tidak nyaman terhadap sesuatu yang tidak dipahami padahal tadinya kita merasa sangat paham sekali.
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang masih muda, berkembang, dan sangat dinamis serta sangat kontekstual sekali. Menurut saya kegamangan terhadap perubahan gaya bahasa ini, biasanya karena kekurang pahaman kontekstual dari perubahan bahasa itu. Dan sering membuat mereka yang di LN lalu serta-merta mengecam macam-macam (orang Indonesia pengen gaya lah, sok ini lah sok itu lah, caur banget lah .... lho koq).
Perubahan gaya bahasa ini tidak saja terjadi pada bahasa dan masyarakat yang sangat dinamis, bahkan utk bahasa Jerman yg relatif sudah stabil, dan masyarakat yang kaku pun tetap mengalami perubahan, dan inipun sering membuat “gagap”. Banyak orang tua Jerman begitu terkaget-kaget mendengar anak muda Jerman masa kini berucap “Fettt….eee” (apa ndak bingung Fett itu lemak, koq jadi artinya keren/bagus dsb).
Satu hal lain lagi adalah serapan istilah ataupun frase asing. Penggunaan istilah asing, memang memperkaya suatu bahasa. Walau memang tidak dipungkiri kadang dalam hal ini trend ikut berbicara. Menurut saya sering kali Ikut-ikutan itu terjadi secara “alami”. Dan itu bukan saja di Indonesia. Saya yakin di seluruh dunia, juga terjadi hal yang sama. Di Jerman saja banyak toko yang menggunakan jargon bahasa asing "Douglas, come in and find out" Padahal banyak orang Jerman yang tidak paham artinya.
Memang tanpa kita sadari, kita-kita yang tinggal di LN, sering kritis (terkadang kelewatan) terhadap apa yg terjadi di Indonesia (dan itu bagus), tapi kita lebih begitu menerima apa adanya di negara tempat tinggal saat ini, tanpa mengkritisinya. Kalau Anda gatel dengan ucapan "hare gene", Anda juga harus gatel dengan “Gua on the way nih”. Atau tanpa tersadar terucap "Ach so" ketika baru pulang ke Indonesia.
Penyerapan bahasa asing dengan konteks lokal juga sah-sah saja. Dan tidak perlu dianggap karena orang Indonesia tidak berfikir panjang. Di tiap bahasa juga terjadi hal tu (contoh simple stakeholder USA vs stakeholder UK).
Yang penting menurut saya, bagi mereka yang tinggal lama di LN dan ingin pulang, tahu menempatkannya saja, dan memahaminya. Tanpa perlu jadi sok tahu. Umur saya sudah di atas 40 tahun tapi saya selalu mencoba memahami cara anak SMA berbicara, bukan karena mencari ABG lho :-) tapi karena mereka lah yang bakal jadi mahasiswa saya. Ntar bingung lagi saya pas mereka ngomong. Untungnya ada Youtube, chatting sedikit banyak bisa menjadi sarana persiapan, biar tidak kaget-kaget amat.
Begichuuuuuuuuu… koq binun, lha hujhan hujhan bechek ndak ada ojhek aja ndak pada bingung. Kalau yang bicara gaya gini, lebih baik mulutnya dibonding aja :-)
Kalau jaman 80'an bahasa gaulnya lebih meng-eksplore kalimat 'slang' atau dibaca terbalik (misalnya pusing = suping dsb) Bahasa gaul sekarang banyak juga yang 'ngawur' dan agak2 'asal' karena ada beberapa kalimat gaul yang tidak peduli pada susunan kata dasar Subyek - Predikat - Obyek . Bahasa gaul yang gini sifatnya temporal dan sebentaran aja.
Yang kita butuhkan adalah 'bahasa-bahasa' gaul yang kelak bisa memperkaya perbandaharaan Bahasa Indonesia itu sendiri . Budaya yang nggak berkembang bisa ditengok dari gaya bahasanya yang juga tak berkembang .
Bahasa menunjukkan bangsa, bangsa yang menghargai dirinya akan menghargai bahasanya. Melihat bahasa Jerman yang sudah stagnasi, apakah menunjukkan budayanya sudah stagnasi juga ? Kalau gitu masih ada secercah harapan nih bangsa Indonesia.... Sayangnya studi tentang bahasa Indonesia, masihlah juga langka
Bidan Bahasa Indonesia di Universitas di Luar Negeri sudah mulai berkurang seiring pensiunnnya para Professor Bahasa Indonesia. Di jerman jumlah Universitas yang memiliki bidang Studi Bahasa Indonesia adalah Humbolt University, Frankfurt University, Konstan University of Applied Science dan Köln University sedangkan di Hamburg University sedang berjuang cari Junior Professor. Depdiknas saat ini menggalakan program BIPA(Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) dan beasiswa Darmasiswa untuk mahasiswa asing.
BIPA itu yg di bawah KAIN http://kain.depdiknas.org, ya cak ? Kalo sampeyan ada akses ke kampus Koeln, Hamburg dsb, mungkin mereka bisa kerja sama utk memirror Kamus Bahasa Indonesia yang sekarang sudah ada versi elektroniknya di Pusat Bahasa.
Kelemahan Bahasa Indonesia memang pada kurangnya kosa kata. Lalu mulailah banyak "mengimport" kosa kata bahasa asing dan kadang juga dari bahasa daerah. Tapi kayaknya impor-mengimpor kosa kata ini sudah "kebablasan" :D
Menurut saya itu malah kelebihan bhs Indonesia. Bhs Indonesia relatif melakukan penyerapan lebih baik ketimbang bahasa Malaysia. Bahkan secara bahasa Malaysia mencoba menyerap bahasa Indonesia.
Hallah sekarang ABG Kuala Lumpur ini udah pada ikutan ngomong gue eloe ... bahkan menurut mereka elu dan gue itu asli dari Johor bukan dari Jakarta ! Kayaknya website ini udah kena deface --> http://www.gua.com.my/